Supply chain management merupakan bahan bakar perusahaan manufaktur untuk menghasilkan profit. Walaupun ada uang namun tanpa produksi produk, stok barang habis, hingga tidak ada produk yang bisa dijual, inilah letak masalahnya.
Masalah yang terjadi pada supply chain akan merembet ke mana-mana. Akibatnya, produksi barang terganggu sehingga menyebabkan keterlambatan pengiriman.
Oleh sebab itu, perusahaan manufaktur perlu mempersiapkan manajemen risiko demi mengurangi masalah penyuplaian.
Manajemen risiko supply chain dapat teratasi dengan menerapkan strategi yang tepat untuk meminimalisir yang terjadi. Tetapi, sebelum mengulik apa saja strategi manajemen risiko, pahami dahulu apa itu manajemen risiko pada supply chain.
Manajemen risiko supply chain
Supply Chain Risk Management (SCRM) adalah perpaduan dari konsep Supply Chain Management (SCM) dan Risk Management (RM) untuk mengurangi risiko dari masalah penyaluran pasokan barang dari perusahaan.
Konsep SCRM bertujuan untuk memitigasi risiko dari hal-hal tidak terduga dan meningkatkan efisiensi rantai pasokan. Terkhusus bagi perusahaan manufaktur yang memiliki SCM dengan kompleksitas tinggi.
Perusahaan manufaktur skala besar melibatkan vendor, layanan teknologi, dan konsumen dalam perancangan supply chain management. Proses ini penting untuk diukur risikonya demi efektivitas SCM.
Jenis risiko pada supply chain
Berdasarkan Managing Quality Risk in a Frozen Shrimp Supply Chain: A Case Study, ada dua risiko pada supply chain yaitu internal dan eksternal.
Risiko internal
Risiko internal disini sangat melekat pada SCM perusahaan. Ada beberapa faktor yang dapat disebut risiko internal, yaitu
- Risiko operasional : Risiko ini berkaitan dengan kegiatan operasional sehari-hari seperti kerusakan mesin, program tidak jalan, hingga operator mesin.
- Risiko finansial : Risiko ini terjadi karena masalah pengaturan keuangan perusahaan yang dapat menghambat jalannya produksi.
- Risiko strategis : Risiko ini muncul ketika perusahaan melakukan merger, akuisisi, maupun mengubah kebijakan perusahaan. Perubahan ini dapat mengganggu supply chain yang sudah berjalan.
- Risiko SDM : Risiko ini terjadi ketika terjadi turnover karyawan hingga kurangnya pelatihan dalam masalah supply chain management.
- Risiko kualitas : Risiko yang terjadi ketika ada perubahan kualitas produk karena perbedaan bahan baku. Masalah terburuk dari hal ini adalah penarikan produk dari pasar.
Risiko eksternal
Selain masalah dari dalam perusahaan, masih ada faktor diluar perusahaan yang mempengaruhi supply chain. Risiko eksternal tidak bisa dikendalikan karena sifatnya dinamis. Berikut ini adalah macam-macam risiko eksternal dalam supply chain.
- Risiko geopolitik : Masalah ketidakstabilan politik, perubahan kebijakan pemerintah, trade war, dan sebagainya dapat mengganggu dinamika supply chain.
- Risiko lingkungan : Bencana alam dapat mengganggu kegiatan produksi dan pengiriman barang. Hal ini akan mengganggu supply chain yang sudah berjalan
- Risiko ekonomi : Risiko ini terjadi ketika ketidakseimbangan harga barang, fluktuasi permintaan hingga masalah ekonomi membuatnya menjadi masalah tersendiri.
- Risiko teknologi : Kemajuan teknologi mengubah proses pembuatan produk. Perubahan ini dapat mengubah supply chain management.
- Risiko pemasok : Pemasok dapat mengalami masalah yang membuat supply chain terganggu.
Langkah-langkah melakukan manajemen risiko supply chain
Association for Supply Chain Management (ASCM) menyatakan manajemen risiko supply chain terbagi dalam tiga fase utama, yang mana sebagai berikut
Identifikasi
Langkah pertama adalah melakukan identifikasi setiap ancaman yang akan menjadi masalah di kemudian hari.
Mitigasi
Setelah identifikasi, selanjutnya adalah menerapkan langkah-langkah untuk mengatasi masalah yang akan terjadi secara efektif dan efisien.
Pemantauan
Pemantauan dilakukan untuk memastikan ancaman dapat terselesaikan dengan tepat dan tidak mengganggu jalannya supply chain di kemudian hari.
Strategi manajemen risiko rantai pasokan
Mitigasi risiko supply chain bukanlah hal mudah untuk dilakukan, terutama pada perusahaan besar. Walau demikian, Anda dapat memakai beberapa strategi ini untuk melakukan manajemen risiko.
Memakai model manajemen risiko PPRR
Model manajemen risiko PPRR adalah strategi mitigasi risiko supply chain yang banyak digunakan oleh industri. PPRR sendiri adalah singkatan dari Prevention, Preparedness, Response, Recovery.
- Prevention : Berfokus pada pencegahan mitigasi risiko supply chain
- Preparedness : Menerapkan dan mempersiapkan rencana ketika dalam keadaan darurat
- Response : Eksekusi rencana darurat untuk mengurangi dampak yang dapat mengganggu supply chain
- Recovery : Fokus pada pemulihan operasi agar berjalan normal pasca melewati keadaan darurat.
Konsolidasi data
Langkah ini dilakukan dengan membuat data terpusat untuk memperoleh kondisi terkini terkait supply chain management. Konsolidasi data bermanfaat sebagai alat pengambilan keputusan, perkiraan, dan deteksi dini gangguan supply chain yang akan terjadi.
Pelatihan internal
Perkembangan dunia supply chain management membuat industri harus adaptif. Salah satunya bentuknya adalah pemahaman karyawan tentang manajemen risiko supply chain.
Anda dapat mengajarkan cara mengelola supply chain untuk menghasilkan produksi yang efektif dan efisien.
Melakukan pelacakan metrik angkutan
Memantau indikator kinerja waktu pengiriman, biaya perjalanan, dan kinerja operator membantu Anda menemukan potensi masalah pada supply chain. Kemudian, lakukan perbaikan berdasarkan masalah tersebut.
Diversifikasi pemasok
Vendor atau pemasok dapat mengganggu supply chain management ketika terjadi masalah. Sebagai perusahaan, Anda perlu membuat diversifikasi basis pemasok sebagai bentuk manajemen risiko.
Seandainya, pemasok utama mengalami masalah, Anda dapat memakai pemasok alternatif sebagai penyelamat. Kalau perusahaan Anda sedang kelebihan uang, jangan ragu pakai dua pemasok sekaligus untuk menaikan tingkat keamanan supply chain.
Membuat skenario darurat
Skenario ini berguna untuk mempersiapkan diri ketika perusahaan Anda mengalami masalah di kemudian hari. Jika itu terjadi, Anda sudah siap dengan langkah darurat.
Skenario darurat ini seperti jalur evakuasi untuk gedung perkantoran. Apabila mengalami bahaya, orang di dalam gedung perkantoran dapat segera menyelamatkan diri melalui jalur evakuasi.
Pemantauan tren supply chain
Memantau kondisi ekonomi dan politik suatu negara menjadi cara untuk mengetahui langkah dalam menetapkan strategi supply chain management. Selain itu, tren pasar juga perlu diantisipasi untuk kelangsungan produksi.
Menggunakan teknologi
Investasi dalam teknologi canggih seperti Artificial Intelligence hingga Machine Learning dapat mendeteksi risiko secara otomatis. Kemudian, menawarkan analisis prediktif untuk menemukan solusi masalah.
Membuat kerjasama ulang dengan vendor
Jika diversifikasi vendor terlalu sulit untuk perusahaan Anda, memperkuat relasi dengan vendor lama dapat menjadi langkah yang tepat. Mulailah dengan membangun komunikasi yang transparan untuk menjaga supply chain tetap aman.
Manajemen inventaris
Supply chain bermasalah kalau stok barang tidak terjaga. Ketersediaan barang dapat mempengaruhi lead time. Jika lead time terlalu lama dapat mengganggu supply chain.
Tools manajemen risiko supply chain
Keberhasilan dalam manajemen risiko terdapat tools yang dapat digunakan. Tools manajemen risiko ini dapat menyelesaikan masalah supply chain.
Risk assessment templates
Templat untuk membantu Anda mengevaluasi dan melakukan skala prioritas risiko dengan sistematis.
Dashboard and reporting tools
Tampilan visual untuk membantu pemangku kepentingan memahami kondisi supply chain saat ini dan mengidentifikasi anomali.
Supplier scorecard
Alat untuk evaluasi kinerja pemasok untuk membantu Anda membuat keputusan terkait vendor.
Simulation model
Bisnis mampu melihat hasil supply chain dengan membuat model simulasi berdasarkan rencana yang sudah dibuat.
Decision trees
Decision tree adalah alat untuk membuat keputusan berdasarkan pertimbangan faktor risiko dan dampak potensial.
Supply chain mapping
Peta supply chain secara menyeluruh untuk melihat dimana letak masalah yang terjadi.
Teknologi sensor
Sensor berguna untuk memantau produk dan bahan berdasarkan variabel suhu dan kelembaban untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga.
Kesimpulan
Manajemen risiko supply chain bertujuan untuk memitigasi risiko dari hal-hal tidak terduga. Risiko supply chain terbagi dalam dua hal yaitu internal dan eksternal. Masalah internal berkaitan dengan kondisi perusahaan, sedangkan masalah eksternal berhubungan dengan hal-hal diluar kendali perusahaan.
Manajemen risiko supply chain dilakukan dengan tiga langkah utama yakni identifikasi, mitigasi, dan pemantauan. Kemudian model PPRR adalah alat manajemen risiko yang banyak digunakan di industri.
Walau demikian, namanya manajemen risiko supply chain dapat terlaksana apabila Anda memiliki pengetahuan terkait supply chain management. Tambahkan wawasan Anda terkait supply chain melalui Buku Supply Chain Management.
Cek harga buku Supply Chain Management melalui situs Anak Teknik Indonesia!
0 Komentar
Artikel Terkait
